Meniti Karir Kedua: Motivasi Mardhatillah dalam Setiap Amal, Usaha, dan Karya (1) PDF Print E-mail
Rabu, 06 Agustus 2008

Oleh: K.A. Endin 

”Sesungguhnya amal-amal perbuatan tergantung niatnya, dan bagi tiap orang apa yang diniatinya,” (HR. Bukhari).

Motivasi adalah dorongan atau harapan untuk melakukan suatu perbuatan atau tingkah laku. Dalam diri seseorang motivasi berfungsi sebagai pendorong kemampuan, usaha, keinginan, menentukan arah, dan menyelesaikan tingkah laku. Motivasi juga menjadi pengarah dan pembimbing tujuan hidup seseorang, sehingga ia mampu mengatasi persoalan-persoalan hidup yang merintanginya.

Dalam Islam motivasi sangat terkait dengan misi atau tujuan manusia hidup di dunia. Al-qur’an menyebutkan tujuan manusia diciptakan di dunia ini hanya berlaku untuk beribadah kepada Allah Swt. Firman Allah: ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku,” (QS. Adz-Dzariyat [51]:56). Karenanya, segala amal perbuatan atau perilaku manusia harus  atas dasar ibadah kepada Allah, mencari keridhaan Allah (mardhatillah). Maka sesuatu yang tidak didasarkan atau diniatkan karena Allah tidak bernilai ibadah. Di sinilah pentingnya motivasi atau niat dalam Islam. Niat sangat menentukan nilai dari amal perbuatan yang kita kerjakan. Sabda Rasulullah Saw: ”Sesungguhnya amal-amal perbuatan tergantung niatnya, dan bagi tiap orang apa yang diniatinya. Barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa hijrah untuk meraih kesenangan dunia dan menikahi wanita, maka hijrahnya adalah kepada apa yang ia hijrahi,” (HR. Bukhari dari Umar Bin Khattab).

Selain untuk beribadah, Allah juga menciptakan manusia agar menjadi khalifah atau pemimpin di muka bumi ini. Menjadi khalifah adalah suatu amanah (kepercayaan) yang diberikan Allah kepada manusia yang harus dilaksanakan dengan baik. Amanah Allah sangat tinggi nilainya, karena sebetulnya sebelum manusia diciptakan, Allah telah menciptakan malaikat, makhluk yang selalu taat terhadap perintah-Nya. Malaikat pun iri dan sedikit ”protes” kepada Allah seperti yang terdapat dalam Firman-Nya: ”Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata: Mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Tuhan berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui,” (QS. Al-Baqarah [2]:30).

Ada khalifah dunia, negara, provinsi, kota/kabupaten, kecamatan, dan desa. Ada khalifah perusahaan/BUMN, direktur, biro/bidang, dan seksi. Ada khalifah keluarga dan rumah tangga yang semuanya akan dimintai tanggungjawabnya oleh Allah kelak.

Sebagai khalifah Allah, tugas manusia adalah menjaga dan memelihara alam ini dengan baik. Allah mencipatakan alam ini sebagai tempat mencari rezeki bagi manusia. Segala macam kebutuhan hidup manusia ada di sini. Tinggal bagaimana manusia memakmurkan atau mengolah alam ini dengan sebaik-baiknya. Alam ini merupakan karunia Allah untuk manusia. Karena itu, sebagai ciptaan-Nya manusia tidak boleh lupa dengan kewajibannya. Manusia harus selalu beribadah dan mencari keridhaan Allah. Tidak boleh mensekutukan-Nya. Allah berfirman: ”Dan kepada Tsamud (kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: ’hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah mencipatakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya),” (QS. Huud [11]:61). 

Sasaran Hidup

Tadi disebutkan misi atau tujuan penciptaan manusia semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah. Salah satu fungsi dari ibadah adalah agar manusia bertakwa kepada Allah. Takwa adalah menaati segala perintah Alllah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan bertakwa manusia akan terhindar dari hukuman Allah. Sebaliknya, ia akan mendapat kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Dengan iman dan takwa, pintu kebahagiaan terbuka dari langit dan bumi, baik kebahagiaan jasmani maupun rohani. Sebaliknya melanggar perintah Allah akan berakibat kebinasaan dan kehancuran.

Orang-orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa kepada-Nya. Takwa merupakan derajat tertinggi bagi kaum muslimin dalam kehidupan beragama. Terbukti, tujuan dari ibadah shalat, zakat, atau puasa adalah agar manusia mencapai derajat ketakwaan. Harta kekayaan, status sosial, dan kekuasaan tidak bernilai di sisi Allah. Allah berfirman: ”Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di anatara kamu. Sesungguhnhya Allah Maha Tahu lagi Maha mengenal,” (QS. Al-Hujurat [49]: 13).

Kalau manusia bertakwa kepada Allah niscaya dalam hidupnya akan bahagia di dunia dan di akhirat, sehingga terbebas dari siksa api neraka. Makanya tidak heran, banyak kesempatan, manusia selalu berdoa agar hidupnya memperoleh keselamatan di dunia dan di akhirat. Firman Allah Swt: ”Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: Ya tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka,” (QS. Al-Baqarah [2]: 201).

Sangat wajar bila dalam hidupnya manusia ingin bahagia di dunia dan di akhirat. Sebab, percuma saja manusia berumur panjang, tapi dalam hidupnya tidak memperoleh kebahagiaan dan keselamatan. Rasanya hidup ini menjadi sia-sia. Harta, status sosial, jabatan, dan kekuasaan saja tidak cukup membuat manusia bahagia, jika tidak dibarengi dengan mendekatkan diri kepada Allah. Semua yang kita miliki tidak berarti apa-apa bila Allah tidak meridhainya. Untuk apa banyak harta tapi kita masuk penjara atau Nusakambangan?

Agar sampai kepada tujuan dan sasaran hidupnya manusia harus melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya. Manusia harus mamnfaatkan hidupnya untuk berusaha dan bekerja, tapi tetap tidak melupakan ibadah kepada Allah. Di bagian ini dijelaskan tiga strategi atau cara agar manusia mencapai hidup yang mardhatillah. 

Strategi I (satu)

Mendayagunakan bumi dan langit serta isinya

Allah menciptakan langit dan bumi ini sebagai rahmat bagi manusia, karena itu manusia wajib memelihara dan mendayagunakannya dengan baik. Perintah ini terdapat dalam Al-Qur’an, antara lain:

”Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada apa demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir,” (QS. Al-Jatsiyah [45]:13).

”Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu,” (QS. Al-Baqarah [2]:29).

”Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluan) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah),” (QS. Ibrahim [14]:32-34).

Mendayagunakan bumi dan langit ini juga banyak macamnya, di antaranya:

  • Di lautan (QS. Al-Isra [17]:66, QS. Al-Hajj [22]:65, QS. Asy-Syura [42]:32, dan QS. Al-Jatsiyah [45]: 12)
  • Di sungai (QS. Ibrahim [14]:32, QS. An-Nahl [16]:15)
  • Pertanian (QS. Al-An’am [6]: 99, QS. Nuh [71]: 12, QS. Yasin [36]: 33-36, QS. Al-Baqarah [2]:, QS. Al-A’raf [7]: 57, dan QS. Ar-Ra’d [13]: 3)
  • Peternakan (QS. Yasin [36]: 72-73, QS. Al-Hajj [22]: 28 dan 34)
  • Pertambangan (QS. Al-hadid [57]: 25)
  • Jual-Beli (QS. An-Nisa [4]: 29, QS. An-Nur [24]: 37, dan QS. Al-Baqarah [2]: 272)
  • Perindustrian/kerajinan (QS. Al-Mukminnun [23]: 27)
  • Dilarang merusak lingkungan (QS. Al-A’raf [7]: 85, QS. Al-Baqarah [2]: 205, QS. Asy-Syu’ara [26]: 151, QS. Al-Qashash [28]: 77, QS. Ar-Rum [30]: 41, dan QS. Al-Maidah [5]: 33)
  • Hamba-hamba yang mampu dan profesional akan mampu mempusakai bumi (QS. Al-Anbiya [21]: 105, QS. Al-A’raf [7]: 74 dan 85, QS. Al-Baqarah [2]: 205, QS. Ar-Ra’d [13]: 35, QS. Asy-Syu’ara [26]: 151, QS. Al-Qashash [28]: 77, dan QS. Hud [11]: 85). (zar)