Kemenegkop UKM Kembangkan Sistem Ovop di Jabar PDF Print E-mail
Selasa, 19 Agustus 2008
Jakarta (19/8) Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan koperasi, usaha kecil dan menengah (UKM) khususnya di bidang agrobisnis di Jawa Barat. Kementerian Negara Koperasi (Kemenegkop) dan UKM mengembangkan sistem one village one product  (Opov). Sistem Ovop ini terus dikembangkan terkait keberhasilan program tersebut di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Untuk di Jawa Barat, kata Deputi Bidang Pengkajian Sumber Daya UKM Kemenegkop dan UKM, I Wayan  Dipta dikembangkan di lokasi Warung Kondang Cianjur dan Ciwidey. 

“Di Cianjur tersebut dikembangkan tanaman jenis kacang kapri sedangkan di Ciwidey strawberry. Budi daya komoditi tanaman tersebut sangat menguntungkan karena sudah memiliki pasar yang pasti,” ungkap I Wayan Dipta pada wartawan.  

Selain pasar domestik di perhotelan dan restoran kacang kapri memiliki orientasi ekspor di negara Jepang, Korea Selatan yang sebelumnya dihimpun dan ditampung oleh koperasi.  

Untuk menjalankan sistem Ovop di Cianjur Kementerian Koperasi dan UKM,  bekerjasama dengan Departemen Pertanian beserta koperasi daerah setempat.Sedangkan teknis pengembangan dibantu oleh Taiwan sebagai negara pencipta Ovop. 

“Kami belum melakukan kajian atas dampak Ovop, terutama mengenai omzet 126 petani di Warung Kondang. Sesuai kajian, satu petani idealnya hanya menanam kacang kapri seluas 1000 meter persegi. Hasil panen antara 800 kg hingga 1 ton. Dalam tiga bulan usia panen 1.000 meter lahan menghasilkan Rp10 juta,” ujar I Wayan Dipta. (Agus. www.pkesinteraktif.com)