|
Assalamu’alaikum, Pengasuh yang terhormat, saya ingin menanyakan mengenai tips mengatur keuangan menjelang lebaran ini, kita ketahui bahwa kebutuhan hidup semakin meningkat, sedangkan pemasukan relatif stabil. Bagaimana caranya agar kebutuhan tetap dapat terpenuhi. Yang kedua, bagaimana jika untuk memenuhi kebutuhan itu, saya meminjam dari orang lain? Apakah hal itu merupakan solusi yang baik, jika tidak, sebaiknya bagaimana?. Terimakasih. Wassalam, Amyrahma – Pasar minggu
JAWABAN: Asalamu’alaikum Wr.Wb. Ibu Amyrahma yang berbahagia, Mari kita lihat kembali Lebaran tahun yang lalu, apa yang membuat kebutuhan kita meningkat menjelang lebaran. Apakah karena kita termasuk yang dituakan sehingga harus menerima kunjungan silaturahim dari keluarga besar dan masyarakat sekitar, sehingga kita harus menyajikan makanan dan minuman. Atau kebutuhan itu meningkat karena kita harus menyediakan dana untuk transportasi mudik untuk seluruh anggota keluarga. Atau kebutuhannya meningkat karena membeli baju baru, peralatan shalat baru, kendaraan baru, penampilan rumah baru. Atau karena kita banyak pengeluaran untuk bersedekah, menyediakan buka puasa di mesjid dekat rumah, santunan untuk anak yatim. Alhamdulillah. Dari kesemua pengeluaran di atas yang mana menurut kita kebutuhan dan mana yang merupakan keinginan. Hal ini harus bisa kita bedakan dan pisahkan dulu termasuk kebutuhan duniawi dan ukhrowi. Menjelang hari raya lebaran setiap perusahaan akan mengeluarkan THR untuk para karyawannya. Di sisi karyawan, sebelum THR itu diterima biasanya sudah siap sedia dengan daftar antrian pengeluaran. Coba dilihat kembali pengeluaran mana yang merupakan kebutuhan dan mana untuk keinginan. Setelah dipisahkan coba periksa lagi daftar kebutuhan dan urutkan berdasarkan prioritasnya dari mulai yang harus dibeli sampai dengan yang bisa ditunda atau mungkin belum perlu. Kemudian sisihkan dahulu dana THR untuk zakat dan tabungan lalu bandingkan antara sisa dana THR yang akan diterima dengan daftar kebutuhan, apakah anda mampu memenuhi semuanya atau mungkin masih surplus. Kalau tidak cukup terpaksa ada kebutuhan yang harus ditunda. Kebutuhan untuk memberi sesuatu kepada orang tua atau kerabat dekat yang membutuhkan juga perlu, menyenangkan anak-anak kita yang baru mulai berpuasa juga mungkin perlu agar mereka lebih semangat untuk beribadah. Jadi pandai-pandailah untuk membagi prioritas dan tidak berlebihan. “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS Al Furqaan 25:67) “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al A’raaf 7:31). Dengan dasar ayat-ayat ini seyogyanya kita selalu menyesuaikan kebutuhan dengan kemampuan kita, sebaiknya hindari pemenuhan kebutuhan untuk hari raya ini dengan berhutang, hal ini akan menjadi beban di kemudian hari, apalagi kalau kebutuhan itu lebih untuk mendapatkan pujian dari keluarga atau orang lain pada saat berkumpul untuk silaturahim, pujiannya sesaat tetapi bebannya panjang. Mengharapkan pujian dari orang lain belum tentu bahagia bahkan mungkin kecewa, tetapi mengharapkan pujian dan rahmat Allah SWT kita tidak akan kecewa. Manusia tidak akan pernah puas dengan mendapatkan apa yang diinginkannya, tetapi mereka akan puas dengan mendapatkan apa yang Allah kehendaki. Semoga bermanfaat. Wass.Wr.Wb. Wassalam, Edianto Prasetyo Direktur Eksekutif Hijrah Institute-Jakarta |