Masjid Nurul Huda Manggarai, Majlis Ta値im Benteng Keimanan Umat PDF Print E-mail
Jumat, 19 September 2008

Langgar (baca: musholla) babeh Nung,  itulah nama masjid Nurul Huda ketika masih berupa langgar (musholla). Babeh Nung adalah orang tua dari Hj. Asiah yang mewakafkan sebidang tanah untuk dibangun langgar. Nama Asli Babeh Nung adalah Muhammad Nur. Langgar babeh Nung ini dibangun pada tahun 1956, kalau dihitung saat ini sudah berusia sekitar 52 tahun. “Menurut, H. Abdul Shomad, Pengurus masjid Nurul Huda.”

Dari tahun ke tahun perkembangan jumlah penduduk semakin meningkat dengan tajam. Baik karena penduduk asli maupun mereka yang berdatangan ke wilayah sini. Dengan berbagai pertimbangan, maka pada tahun 1990 fisik bangunan langgar babeh Nung ini diperbaiki dan diikrarkan menjadi masjid. Setelah menjadi masjid, namanya tidak lagi Langgar Babeh Nung tetapi dengan nama Masjid Nurul Huda.

Untuk memperluas masjid agar mampu menampung kapasitas jamaah yang semakin hari semakin besar, khususnya pada hari Jum’at, Hari Raya ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha, serta peringatan Hari Besar Islam (PHBI) perlu perluasan masjid. Perluasan masjid ini dilaksanakan pada tahun 2002 dan selesai pada tahun 2003. perluasan yang dilaksanakan dengan membangun masjid menjadi dua lantai. Sehingga lantai bawah dan lantai atas menjadi 400 m2 dan mampu menampung lebih kurang 600 jamaah. “Lanjut, H. Abdul Shomad (65).”

Sekarang ini masjid Nurul Huda dijadikan sebagai pusat kegiatan keagamaan dan kegiatan sosial. Kegiatan keagamaan ini terlihat dengan majlis ta’lim ibu-ibu yang dilaksanakan setiap hari Kamis siang (13.00-14.30 WIB). Kamis minggu pertama dan ketiga, majlis ta’lim ibu-ibu masjid Nurul Huda mengkaji Hadits Rasulullah Saw dengan kitab rujukan Riyadhus Sholihin yang disampaikan oleh Ustadzah Hj. Hikmah. Sedangkan Kamis minggu kedua dan keempat adalah membaca Al-Qur’an disertai dengan pelajaran tajwid dengan pengajar Ustadzah Hj, Juwairiyah Hadi. “Ungkap bapak 6 anak dan 12 cucu ini.”

Sedangkan majlis ta’lim bapak-bapak dilaksanakan pada hari Senin pagi setelah shalat shubuh, dengan kajian Tafsir Qur’an yang disampaikan oleh KH. Saman Husni. Meskipun dilaksanakan setelah shlat Shubuh, tetapi tidak mengurangi antusias masyarakat untuk menghadiri ta’lim tersebut. Kalau dihitung tidak kurang dari 100 jamaah yang menghadiri ta’lim tersbut.

Remaja masjid Nurul Huda juga melaksanakan pengajian. Kalau remaja ini pelaksanaannya pada hari Minggu malam setelah shalat Isya. Majlis ta’lim remaja ini membahas kitab Irsyadul ‘Ibad yang disampaikan oleh Drs, Suwardi, M.Pd, dosen Universitas Al-azhar Kebayoran.

Hal ini dilakukan agar keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt terus terjaga. Karena saat ini banyak paham-paham yang bisa menyesatkan umat. Sehingga, majlis ta’lim ini diharapkan mampu membentengi iman jamaah agar tidak terbawa arus yang tidak benar. “Terang, bapak yang kental logat betawinya ini.”

Masjid Nurul Huda juga turut aktif dalam pelaksanaan kuliah shubuh gabungan se-Kecamatan Tebet yang diikuti sekitar 44 masjid dan musholla. Majlis ini diberi nama “Badan Koordinasi Shalat Shubuh Berjama’ah.” Tempat pelaksanaannya bergantian dari satu masjid ke masjid lain yang tergabung dalam forum kuliah shubuh ini yang dilaksanakan pada hari Minggu jam 04.00-06.30. Kuliah shubuh ini diketuai oleh drs. KH. Abdul Lathif Ma’mun, sekretaris H. Hasanuddin, SE. Sedangkan pembinanya adalah Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf dan KH. Abdurrahman Nawi. Pembahasan di kuliah shubuh di antaranya adalah pembahasan Fiqh, Hadits, dan Tafsir Al-Qur’an. Untuk pengajarnya bergantian dan banyak sekali, di antaranya Habib Ali bin Abdurrahman As-Segaf, KH. Abdurrahman Nawi, dan KH. Nazir Zen, MA. Kuliah shubuh se-Kecamatan Tebet ini telah berlangsung dari tahun 1970-an. Jadi sudah lama sekali dan sampai sekarang terus berjalan. Bayangkan setiap Minggunya yang hadir tidak kurang dari 500-600 jamaah. Ini berarti sangat diperlukan pengajian-pengajian seperti ini untuk menambah wawasan keagamaan dan menambah keimanan. “Ucap, H. Abdul Shomad.”

Untuk Ramadhan ini, kegiatan ta’lim terus berjalan, hanya waktunya saja yang agak berubah. Setiap hari dalam pelaksanaan shalat tarawih, selalu ada kuliah tujuh menit (kultum) yang disampaikan oleh ustadz-ustadz yang berada di wilayah masjid maupun dari luar. Di waktu pagi setelah shalat shubuh juga ada ceramah agama. Yang menyampaikan selain ustadz-ustadz juga kami berikan kesempatan kepada remaja atau anak muda untuk bisa berkembang juga, ya sebagai tempat belajar mereka lah. Kalau tidak dibiasakan dikhawatirkan tidak terbiasa, terus, kapan bisanya.  “Lanjutnya dengan logat betawi yang kental.”

untuk kegiatan sosial yang dilaksanakan adalah memberikan santunan kepada fakir-miskin, yatim –piatu yang diberikan setiap awal bulan dalam bentuk subsidi biaya SPP sekolah. Pada bulan Muharram atau tepatnya pada tanggal 10 Muharram setiap tahun selalu rutin memberikan santunan yang digalang dari para donatur dan masyarakat sekitar. Pelaksana kegiatan ini diserahkan kepada ibu-ibu yang tergabung dalam majlis ta’lim ibu-ibu masjid Nurul Huda Begitupula dengan bulan Ramadhan, pengurus masjid mengumpulkan zakat dan menyalurkan kepada mereka yang berhak. Ini semua dilaksanakan dalam rangka membantu mereka yang membutuhkan. Jadi masjid selain tempat ibadah, juga difungsikan sebagai sarana kegiatan sosial yang positif. “Tutur pria yang pernah aktif di Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) dan Banser NU.

H. Abdul Shomad mengharapkan, dengan berbagai kegiatan yang dilaksanakan di masjid Nurul Huda ini dapat menambah wawasan, keimanan dan ketakwaan serta kebersamaan jamaah Masjid Nurul Huda dalam bingkai Ukhuwah Islamiyah. Terutama sebagai benteng dari aliran-aliran yang menyesatkan yang sekarang ini marak sekali, khususnya benteng bagi anak muda yang ingin tahunya masih tinggi. (zar,www.pkesinteraktif).