Fahmi Chatib (1930-1997) PDF Print E-mail
Selasa, 28 Oktober 2008

Fahmy Chatib lahir pada tanggal 8 Dzulhijjah 1348 H, bertepatan dengan tanggal 1 Mei 1930 M di Negari Kubang, Kabupaten 50 Kota Sumatra Barat.  Fahmy Chatib lahir dari pasangan H. Ahmad Chatib dan Urai Sani.

Tanah kelahirannya, Negeri Kubang merupakan salah satu pusat kegiatan Muhammadiyah di Kabupaten 50 Kota dan di sini berdiri sekolah Muallimin Muhammadiyah 4 tahun yang muridnya banyak yang berasal dari luar Negari Kubang. Selain itu, sebagai pusat pertenunan dan pertekstilan yang hasil produksinya tersebar hingga ke daerah lain khususnya Medan dan Pekanbaru.

Ketika Fahmy berumur 6 tahun, ayah tercinta meninggal dunia yang kemudian disusul oleh ibunya ketika ia berumur 11 tahun. Keadaan inilah yang menjadikan ia dipaksa untuk cepat mandiri. Setelah menjadi yatim piatu, ia diasuh oleh neneknya Maralia dan pamannya yang bernama Harun.

TK Bustanul Athfal Aisyiyah adalah pendidikan formal Fahmy yang pertama pada tahun 1935. kemudian melanjutkan ke Muhammadiyah I dan II (setingkat SD) dan tamat pada tahun 1942. setelah itu ia melanjutkan ke Muallimin Muhammadiyah yang merupakan setingkat SLTP dan tamat pada tahun 1947. Sekolah Menengah Atas nya ia selesaikan di SMA Negeri Bukittinggi dan tamat pada tahun 1952. Setamat dari SMA Negeri Bukittinggi, ia pergi ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia dan lulus pada tahun 1960.

Kiprahnya dalam dunia pendidikan selain menjadi guru pernah menjadi Direktur SMP. P.E.C Bukittinggi (1952-1955), Direktur SMP Dharma Jakarta (1956-1958), direktur SMA Negeri Budi Utomo Jakarta dan Guru SMA Muhammadiyah II Jalan Garuda Jakarta. Tahun 1963-1966 menjadi dosen bidang studi manajemen pada Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang.

Fahmy Chatib merupakan orang yang sangat gemar berorganisasi ini dapat dilihat dari kiprahnya dalam dunia organisasi yang dimulai ketika ia berusia masih sangat muda, yaitu umur tujuh tahun yang sudah aktif menjadi anggota Hizbul Wathan (Kepanduan Muhammadiyah). Fahmy juga masuk dalam tentara pelajar untuk menghadapi agresi Belanda.

Karir di Muhammadiyah ia mulai dari bawah. Tahun 1946 ia menjadi Ketua Pemuda Muhammadiyah Cabang Kubang. Tahun 1955-1960 dipercaya menjadi anggota Pimpinan Muhammadiyah Cabang Kramat. Tahun 1964-1966 menjadi anggota Pimpinan Muhammadiyah Wilayah Jawa Tengah. Tahun 1966 ia terpilih menjadi anggota Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah hasil Muktamar Jakarta. Dalam muktamar di Medan pada tahun 1969 ia terpilih menjadi Wakil Ketua I Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah dan pada tahun 1971-1975 sebagai Wakil Bendahara PP Muhammadiyah. Tahun 1975-1980 terpilih sebagai Ketua Majelis Hikmah PP Muhammadiyah dan tahun 1985-1990 menjadi Ketua Biro Hubungan Luar Negeri dan Bendahara Lembaga Dakwah Khusus PP Muhammadiyah. Tahun 1990-1995 menjadi Ketua Bidang Sosial Ekonomi PP Muhammadiyah dan pada periode yang sama oleh PP Muhammadiyah Fahmy juga dipercaya sebagai Ketua Pelaksana Harian Yayasan Rumah Sakit Islam Jakarta.

Selain aktif di organisasi Muhammadiyah, Fahmy juga aktif di bidang usaha. Setamat dari UI ia bekerja di perusahaan Belanda yang diambil alih oleh pemerintah yaitu di NV. Internatio yang kemudian menjadi PT Satya Negara dan berubah menjadi PN Aneka Bhakti. PN ini juga kemudian berubah nama menjadi PN Aneka Niaga. Tahun 1963 Fahmy Chatib diangkat menjadi Kepala cabang Semarang, tahun 1966 dipindahkan menjadi Kepala Cabang Utama Jakarta.

Tahun 1969-1970 Fahmy diangkat menjadi Caretaker Direksi dan pada tahun 1971 dia berhenti dan mendirikan PT Bintraco D.A yang bergerak dalam bidang pertekstilan, yaitu suatu bidang yang sudah tidak asing bagi diri dan orang di kampungnya.

Fahmy Chatib di mata teman-temannya dikenal sebagai seorang tokoh pemikir, penggerak dan pekerja. Bidang yang menjadi kepeduliannya, sesuai dengan dunia kerjanya sehari-hari, adalah bidang ekonomi. Oleh karena itu, sebagaimana kesan Malik Fadjar (mantan Menteri Pendidikan Nasional RI), dalam hal pengelolaan amal usaha Muhammadiyah Fahmy menekankan agar dikelola secara profesional dan dengan wawasan kewiraswastaan yang diikat dengan Qaidah Persyarikatan, sehingga potensi yang ada dapat dimanfaatkan secara baik untuk menggerakkan ekonomi warga Muhammdiyah. Selanjutnya, kata Malik Fadjar, fahmy Chatib adalah seorang tokoh yang bersemangat untuk mendorong agar cita-cita Muhammadiyah menuju “masyarakat utama,” selain dilandasi oleh kekuatan akidah, juga oleh kekuatan dan kemandirian ekonomi. Masalah akidah dan ekonomi bagi Fahmy harus integrated.

Sedangkan menurut Sri Edi Swasono, seorang pakar ekonomi yang merupakan sahabat karibnya, bahwa dirinya dan Fahmy mempunyai kesamaan komitmen. Yaitu komitmen melepaskan ilmu ekonomi konvensional dari unsur riba menuju suatu non usurious mechanism. Bahkan menurut Sri Edi swasono sebelum orang berbicara mengenai “Ekonomi Islam”, Fahmy telah lama mengajukan pemikiran-pemikirannya.

Fahmy Chatib meninggal tanggal 5 Ramadhan 1417 H bertepatan dengan tanggal 14 Januari 1997 M di Jakarta, meninggalkan seorang istri bernama Djuz’ah, 6 orang putra-putri dan 10 cucu.

Disarikan dari buku Ensiklopedi tokoh Muhammadiyah