|
Islam dan Semangat Kebersamaan |
|
|
|
|
Rabu, 12 November 2008 |
|
PROF. DR. H. IMAM SUPRAYOGO Kebanyakan umat Islam di Indonesia sedang mengalami kesulitan dalam hidup. Mereka tidak sedikit jumlahnya yang miskin, tingkat pendidikannya rendah, memiliki pekerjaan sehari-hari yang kurang mendatangkan keuntungan. Demikian pula secara politik dan sosial kurang teruntungkan. Kondisi seperti itu juga masih diperparah oleh pribadi atau kelompok yang mengambil keuntungan dari kelemahan dan kesengsaraan itu.
Para tokohnya sampai saat ini juga belum menemukan jalan keluar dari kesengsaraan itu. Masih untung kalau ada yang memikirkan untuk mencari jalan keluar. Bahkan kebanyakan sudah tidak hirau lagi. Para tokoh sudah memikirkan kepentingan diri mereka sendiri, sekalipun sekali-kali dalam berbicara tidak sedikit yang mengatas-namakan untuk kepentingan umat. Padahal tidak jelas, siapa sesungguhnya yang dimaksudkan dengan umat itu. Sekalipun dalam al Qur’an terdapat peringatan keras bahwa orang yang tidak memperhatikan orang miskin dan anak yatim adalah sama artinya dengan berbuat bohong terhadap agama, tokh masih sangat terbatas orang yang mau memperhatikan orang-orang yang sengsara itu. Orang miskin dan juga anak yatim yang amat parah kesengsaraannya masih banyak berkeliaran di pinggir-pinggir jalan, di perempatan jalan meminta-minta kepada pengendara kendaraan tatkala lampu merah yang mengaharuskan semua kendaraan berhenti. Mereka merasa cukup dengan hanya memberikan sekeping rupiah berangka kecil. Tidak ada yang berpikir bahwa manusia-manusia miskin itu perlu uluran tangan yang bermakna mengentaskan dari dunia yang menyengsarakan itu. Organisasi sosial keagamaan rupanya sudah tidak memiliki kekuatan sama sekali untuk ikut menyelesaikan persoalan itu. Yang mereka lakukan sebatas mengadakan pengajian di antara kelompok-kelompok setara. Pikiran maupun pandangan yang diperoleh dari pengajian juga belum mampu menggerakkan hati sanubari mereka untuk melakukan langkah-langkah kongkrit, misalnya memprakarsai untuk menggalang dana yang sekiranya diperlukan untuk mengatasi persoalan itu. Dalam pengajian biasanya dirasa cukup jika pembicaranya menarik, di sana-sini diselingi lelucon yang mengundang tawa. Bahkan, lelucon itu dianggap tidak mengapa sekalipun harus menyerempet hal-hal yang tabu, misalnya. Pintu keluar dari kesengsaraan itu sesungguhnya telah tersedia dalam al Qur’an, yaitu (1) bertolong menolonglah dalam kebaikan, (2). Ajaklah ke agama Islam dengan sebenarnya, artinya ke suasana keselamatan, yaitu selamat dari kebodohan, kemiskinan, dari niat batin dan perilaku buruk, perkukuh silaturrakhiem, (3) lakukan kebaikan itu melalui jalan yang baik, (4) bersikaplah ikhlas, syukur, tawakkal dan istiqomah. Ajaran seperti inilah, yang disebut Islam, yang sesungguhnya merupakan pintu keluar dari kegelapan hidup yang mencekam selama ini untuk menuju kehidupan yang lebih damai, luhur dan bermartabat bagi semua dan bukan hanya dialami sendirian. Islam tidak mengajarkan hidup sendirian melainkan selalu mengajak berjama’ah. Allahu a’lamPenulis adalah Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Malang sekaligus Guru Besar Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang |
|