Banjir Ibu Kota Ancam Industri Asuransi PDF Print E-mail
Rabu, 12 November 2008

Jakarta (12/11) Musim hujan telah mendera ibu kota, berbagai daerah yang tanahnya sangat rendah dan dekat sungai mau tak mau harus berhadapan dengan bahaya banjir yang setiap tahunnya  melanda. Seperti tahun 2006 dan 2007, masyarakat Ibu kota merasa tak nyaman lagi tinggal dan  melakukan aktifitas yang disebabkan oleh   banjir. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) akibat banjir itu  telah memukul pendapatan perkapita masyarakat. Selain itu lembaga keungan seperti asuransi mengalami banyak klaim dari para pemegang polis.

ImageIndustri-industri asuransi seperti PT Jasindo, Asuransi Astra, Asuransi Central Asia (ACA), PT Bumipuitera, PT Takaful dll. Ditahun 2007 sempat mengalami banyak klaim dari para pemegang polis akibat bencana banjir dan hal itu mempengaruhi performen perusahaan dalam mendapatkan laba perusahaan.

Rata-rata masyarakat yang mengajukan klaim adalah mereka yang selama ini mengansuransikan rumah, mobil dan motor. Tiga aset tersebut yang selama ini rentan dengan bencana banjir. Bagi perusahaan asuransi harus pandai-pandai betul dalam memanage investasinya untuk menghadapi resiko bencana yang diakibatkan oleh bencana benjir.

Sugeng Sudibja, mantan Kepala Divisi Syariah Asuransi Bringin Life, menuturkan, setiap bisnis apapun termasuk bisnis asuransi ada nilai resiko seperti terjadinya banjir. Untuk meminimalisir biaya klaim, biasanya perusahaan asuransi dalam menjual produknya ke masyarakat lebih mahal dibandingkan produk untuk jiwa dan kesehatan.

“Hal ini untuk menyeimbangkan antara klaim dan investasi keuangan di perusahaan asuransi,”paparnya.

Industri asuransi berkembang banyak di Indonesia baik konvensional maupun syariah dan rata-rata dalam produk yang mereka jual adalah asuransi jiwa dan kesehatan. Tapi untuk bencana kebakaran dan banjir hanya sedikit perusahaan asuransi yang membuka produk. Bahkan untuk asuransi gempa bumi dan tsunami masih bersifat wacana saja.

Hal inilah, menurut Sugeng Sudibja, merupakan tantangan tersendiri bagi pihak asuransi untuk mengembangkan produknya agar memiliki manfaat lebih bagi masyarakat. “Saya rasa asuransi syariah harus mampu menampilkan sebuah produk yang tak dimiliki oleh asuransi konvensional,”paparnya. (Agus. Y www.pkesinteraktif.com