|
Berawal dari sebuah musholla pada tahun 1970-an, kemudian pada tahun 1992 atas kedermawanan bapak H. Laharta dibangunlah musholla tersebut menjadi masjid. Jadi pendirian masjid ini memang sumber pendanaannya murni dari bapak H. Laharta, karena dia pengusaha yang sukses. Sedangkan tanah ini berasal dari wakaf tanah TNI Angkatan Darat, karena wilayah ini adalah kompleks angkatan darat. Masjid Raihanul Hamim yang berada tidak jauh dari masjid Rahmatul Huda juga dana pembangunannya berasal dari bapak H. Laharta itu, terang bapak Waluyo Paryono.
 Masjid Rahmatul Huda Mampang Hanya saja masjid yang telah dibangun ini belum dimaksimalkan oleh warga setempat. Sebenarnya sangat sayang, karena sangat jarang sekali ada orang yang mau membangun masjid dengan dana sendirian, kan dana tersebut tidaklah sedikit. Kalau bukan karena keikhlasan bapak H. Laharta mungkin masjid ini belum berdiri seperti kita lihat sekarang ini. Bayangkan saja, pengajian bapak-bapak saja sampai saat ini hanya dilaksanakan satu bulan sekali, itupun dengan jamaah sebanyak 20-25 orang. Kami sudah berupaya semaksimal mungkin, tetapi ya segitu adanya. Meskipun demikian, pengajian yang setiap satu bulan sekali dengan membahas kajian fiqih yang disampaikan oleh Ustadz drs. Nuralim terus kita laksanakan. Untuk mengisi kekosongan selama satu bulan penuh, kami juga melaksanakan pembacaan surah Yaasin dan Rawi (riwayat maulid Nabi Muhammad Saw) setiap malam Jum’at. Yang lebih miris lagi remaja masjid, ada susunannya tetapi tidak pernah ada wujudnya. Kami selaku pengurus masjid dan orang tua bagi mereka sudah menyediakan lahan agar mereka memanfaatkan masjid dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Tetapi sampai saat ini belum juga dimanfaatkan. Ujar bapak dua anak ini. Kalau majlis ta’lim ibu-ibu sangat aktif. Di masjid Rahmatul Huda dilaksanakan setiap satu minggu sekali pada hari Jum’at yang diketuai ibu dra. Sustiningsih Subroto. Beliau ini istri seorang Jenderal, tetapi sangat peduli dengan pengajian ibu-ibu. Setiap kali pengajian yang disampaikan oleh ustadz drs. Handa Suhanda ini, selalu dihadiri tidak kurang 100 jamaah ibu-ibu. Jika melihat geliat ibu-ibu ini saya sangat iri. Lanjut pak Waluyo Paryono. Selain itu masjid Rahmatul Huda juga menyelenggarakan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) yang dilaksanakan setiap hari, kecuali hari Jum’at. Santrinya juga tergolong banyak sekitar 40 santri dengan tenaga pengajar tiga (3) orang. TPA ini gratis, karena untuk honor tenaga pengajarnya diberikan oleh donatur, ya pak H. Laharta itu. Terang kakek dua cucu ini. Sewaktu saya diminta untuk menjadi ketua masjid, saya merasa ini menjadi tanggung jawab yang harus saya laksanakan dengan sebaik-baiknya. Maka saya membenahi manajemen masjid, terutama maslah keuangan. Maka saat ini kami sudah mempunyai kas masjid sebesar 23 juta rupiah. Ini murni dari tromol yang beredar selama ini. Sehingga kami bisa membiayai kebutuhan masjid setiap saat. Nah dengan dana inilah kami membelikan tiga monitor TV untuk memudahkan pelaksanaan shalat Jum’at. Dengan tiga monitor ini, jamaah seakan-akan berada di ruang yang sama dengan sang khatib. Sound sistemnya juga kami belikan yang bagus, agar suara kegiatan masjid dapat terdengar dengan baik ke seluruh jamaah. Lanjut bapak pensiunan TNI AD. Begitupula dengan perangkat masjid. Setiap minggu kami berikan tanda terimakasih karena sudah mau mengurus masjid. Yang kami berikan adalah, imam tetap sahalat rawatib dua orang, petugas kebersihan, petugas keamanan, meskipun kami berikan tidak banyak tetapi ini merupakan apresiasi kami kepada mereka yang telah mengurus masjid sesuai dengan kemampuan mereka. Namun Ketua, Sekretaris, dan Bendahara tidak diberikan, karena kami ingin sebagai contoh tauladan bagi jamaah, sekaligus menghemat pengeluaran. Ucap Sersan Mayor (purn) TNI AD Waluyo Paryono. Jadi pada intinya masjid kami ini masih tergolong masjid yang pasif. Kegiatannya masih sangat sedikit. Kami sudah berusaha tetapi apa daya. Masyarakat sekitar masjid masih enggan menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan. Jamaah shalat rawatib saja banyak orang yang ngekos, warga sekitarnya sedikit sekali. Saya ingin mengadakan ceramah ekonomi syariah, namun terkendala dengan hal-hal yang demikian. Sayang dana kas yang begitu besar belum dimanfaatkan dengan maksimal. Yang menjadi pelipur lara belum lama ini kami mendapat penghargaan Green and Clean program Unilever tingkat DKI Jakarta. Ujar, bapak Waluyo. (zarkasih, pkesinteraktif.com) Susunan Pengurus Masjid Rahmatul Huda Penasehat : Bapak H. Sukarmin Bapak H. Sujito Bapak Subagio Bapak H. Syarif Ketua : Bapak Waluyo Paryono Wakil Ketua : Bapak H. Umami Sekretaris : Bapak Suparno KD Bendahara : Bapak Suhartono Sie. Imam : Bapak H. Minan Sulaeman Sie. Pembinaan & Pend. Kerohanian : Ibu. Hj. Dra. Sustiningsih Sie. Umum : Bapak Willy Chrisno Ramadhani Sie. Humas : Bapak Duradji, SE Kaur. Imam : Bapak H. Abdul Rojak Kaur. Pengajian Bapak-bapak : Bapak Saifuddin Kaur. Pengajian Remaja : Purwanto Kaur. TPA : Masruroh Kaur. Pengajian Ibu-ibu : Ibu Hj. Fatimah Kaur. Perawatan & Perlengkapan : Bapak Cecep Nuryadi Kaur. Kebersihan : Bapak H. Suprapto Kaur. Humas : Bapak H. Musran |