|
Ketua Majelis Ulama Indonesia, KH Amidhan mengatakan, untuk menjadi marketing syariah sejati memiliki kejujuran dan keimanan. Sebab kedua hal itu yang menjadi prinsip dan Standar Operasional Prosedural (SOP) Lembaga Keuangan Syariah (LKS) untuk bisa berkembang.
Maka dari itu, menurutnya, Sumber Daya Insani LKS harus benar-benar komitmen dan selalu mewaspadai rambu-rambu yang dilarang dalam praktek LKS. Jika tidak ekonomi syariah akan melompat pagar dan kebahlulan akan serta merta menyelimuti bisnisnya. Nach, seperti apakah itu, Agus Yuliawan dari pkesinteraktif.com, menghubungi KH Amidhan secara langsung, berikut komentarnya: Bisnis syariah di LKS tak lepas dari pratek nilai-nilai kejujuran, lantas bagaimana pelaku bisnis syariah mengimplementasikannya ditengah karakter kebahlulan di dunia marketing? Perlu diketahu salah satu persyaratan dari LKS itu adalah kejujuran dan keimananan, maka saya rasa tidak mungkin cara-cara di konvensional itu dilakukan di ekonomi syariah. Jika para pelaku LKS menggunakan cara-cara yang sama dilakukan oleh konvensional secara otomatis transaksi itu sudah batal tidak syariah lagi. Hal ini bisa dikatakan ekonomi syariah yang melompat pagar. Itu artinya peran DPS sangat penting dalam mengontrol operasional perbankan syariah. Iya sangat penting peran DPS itu. Perlu kita ketahui dalam operasional perbankan syariah itu sudah ada rambu-rambunya, antara lain adalah tidak boleh riba, tidak boleh maisir, gharar, riswah, zhulm dan tidak boleh barang maksiat. Mengapa demikian? Sebab Rasullah pernah berkata: jangan bohong. Itu artinya trust kepercayaan. Dengan adanya filter maka tidak ada namanya kejadian kebahlulan di praktisi keuangan syariah. Tapi namanya riswah sulit untuk tak bisa dihindari, bagaimana menurut Anda? Tidak mungkin tak bisa dihindari pasti bisa itu. Kalau riswah itu dilakukan di lembaga keuangan syariah di LKS sudah batal dengan sendirinya. Jika melihat Sumber Daya Insani (SDI) LKS kebanyakan berasal dari konvensional, apakah mungkin karakter di LKS steril dengan budaya konvensional. Ini untuk sementara memang terpaksa kita lakukan, tapi semua itu learning by doing, saya rasa mereka itu harus belajar terus dari paradigma syariah dan performe-nya. Perlu menjadi peringatan, jika mereka masuk ke LKS, perempuannya harus menggunakan jilbab. Saya yakin lama-lama keimanan dan kejujuran mengikutinya. Jadi tidak mungkin akan terjadi seperti marketing bahlul itu di LKS Artinya butuh waktu dong untuk menjadi marketing syariah sejati? Saya sependapat itu dan memang saya akui butuh waktu yang sangat panjang antara learning by doing, tapi di LKS ada pelatihan terus. Saya rasa mereka lama-lama akan ditampakan wajah Tuhan ke bumi tentang esensi ekonomi ekonomi syariah secara kaffah. |