|
Jakarta, (21/11). Yayat Hidayat adalah nama yang disematkan orang tuanya sejak ia lahir. Ia adalah seorang karyawan Pembiayaan Bank Tabungan Negara - Syariah untuk Cabang Makassar. Sejak lulus kuliah empat tahun yang lalu ia telah mendedikasikan dirinya untuk bank syariah. Meskipun ditempatkan jauh dari tanah kelahirannya, Jakarta, tidak menjadi masalah baginya, yang terpenting Ia bisa menjadi bagian dari sejarah berkembangnya ekonomi syariah di Indonesia.
Berbekal gelar Sarjana Ekonomi Islam (SEI) ia bertekad untuk mengabdikan dirinya di ekonomi syariah, khususnya perbankan syariah. Sejak menambatkan hatinya untuk kuliah di Jurusan Muamalah - Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Yayat membulatkan niatnya untuk bekerja di perbankan syariah. Dari sinilah ia akan menggantungkan harapannya untuk kemajuan ekonomi syariah. Menarik, menurut Yayat, bekerja di bank syariah, disini penuh tantangan dan godaan. Tidak jarang Ia menghadapi nasabah yang ingin mendapatkan sejumlah dana dengan menjanjikan hadiah. Dan tidak sedikit bertemu dengan nasabah, sejak awal mengajukan pembiayaan, yang memiliki niat negative. Kalau sudah seperti ini, menurutnya, Ia harus merangkap pekerjaan, sebagai pegawai bank syariah dan sekaligus menjadi pendakwah. “Itulah enaknya kerja di bank syariah. Selain bekerja mencari penghidupan untuk keluarga, itu ibadah dan pastinya dapat pahala, sekaligus berdakwah kepada masyarakat, menyadarkan mereka, dan berpahala juga. Jadi, double pahalanya,” jelas seorang bapak dari satu anak ini. Bekerja di bank syariah ibarat mensyahadatkan orang-orang untuk masuk Islam. Seperti ustadz yang berdakwah di masyarakat yang memiliki kepercayaan dan agama lain. Karena, system ekonomi saat ini, menurut suami dari Nuraini ini, sudah sedemikian rupa dikuasai oleh system kapitalis. Sehingga masyarakat sudah terbiasa dan tidak bisa terlepas begitu saja. Untuk itu, perlu perjuangan yang maksimal agar ekonomi syariah bisa menggantikan system ekonomi kapitalis di Indonesia. Tentunya, ungkap penyuka musik dan olah raga sepak bola ini, masyarakat harus disadarkan terlebih dahulu. “Kadang saya harus menyadarkan (masyarakat) dulu, sebelum mengajak mereka jadi nasabah BTN Syariah,” tegasnya. “Memang harus bertahap untuk mengajak mereka. Rata-rata nasabah pemula akan menanyakan, bunganya berapa? Kalau sudah seperti ini wajib bagi kita menjelaskan sejelas-jelasnya, sebelum kita tawarkan produk kita,” jelasnya.[roel] |