Friday, May 18th

Last update:11:52:06 PM GMT

You are here: Edukasi Hikmah Ittiba’ Syarat Diterimanya Ibadah

Ittiba’ Syarat Diterimanya Ibadah

E-mail Print PDF

Secara bahasa Mba’ artinya : “mengikuti”. Sedangkan secara Istilah Mba’ yaitu : “mengikuti atau mengerjakan hal-hal yang sesuai dan dicontohkan oleh Rasulullah dalam masalah agama, seperti akidah, ibadah dan akhlak.

Tanda dan Bukti Ittiba’

1. Ta’dzim (hormat) kepada nash-nash syar’i.

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili di antara mereka ialah ucapan “Kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” [QS. an-Nur (24): 51]

 

2. Takut tergelincir dan berpaling dari kebenaran.

Ibnu Mas’ud berkata: “Sesungguhnya seorang mumin adalah seseorang yang memandang dosa-dosanya seakan-akan seperti orang yang duduk di bawah gunung yang dia takut jika gunung itu menjatuhi dirinya. Sebaliknya, seorang fasiq adalah seseorang yang menganggap dosa-dosanya hanyalah bagaikan seekor lalat yang lewat di depan hidungnya, lalu dia menghalaunya” (HR. al-Bukhari)

Hasan al-Bashri berkata: “Seorang mukmin adalah seseorang yang beramal dalam ketaatan dengan penuh rasa takut (tidak diterima). Sedangkan seorang yang fajir adalah seseorang yang merasa aman walaupun bergelimang dalam perbuatan maksiat“

 

3. Meneladani Rasulullah saw, lahir maupun batin.

Hal ini dilakukan dengan ittiba’ secara totalitas kepada Rasulullah saw, sehingga tidak ada masalah aqidah, ibadah, amaliah, akhlak, moral, perundang-undangan, sosial kemasyarakatan, ekonomi, politik, dan lainnya, kecuali sesuai dengan yang telah dicontohkannya, yaitu yang terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.

 

4. Menjadikan syari’at beliau sebagai hukum, undang-undang dan penentu kebijakan.

Allah swt berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian. kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (al- Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.”

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya ” [QS. an-Nisa' (4): 59 & 65]

 

5. Ridho dengan hukum dan syari’at Rasulullah.

Rasulullah bersabda: “Yang dapat merasakan iman hanyalah seseorang yang ridho kepada Allah sebagai Rabbnya, islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai rasulnya” (HR. Muslim)

 

Faedah Ittiba’

Di antara faedah, buah dan manfaat ittiba’ adalah:

Faedah di dunia:

1. Mendapatkan hidayah.

“…Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhoan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus” [QS. al-Ma'idah (5): 15-16]

2. Memperoleh keberuntungan.

“…Maka orang-orang yang beriman kepada Nabi tersebut (Muhammad saw), memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung” [QS. al-A'raf (7): 157]

3. Tsabat (teguh) di atas kebenaran.

(Yaitu) orang-orang yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia (Abu Sufyan) telah mengumpulkan pasukan (Quraisy) untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhoan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar” [QS. Ali Imran (3): 173-174]

4. Mendapatkan perlindungan dan pertolongan dari Allah swt.

“Wahai Nabi, cukuplah Allah menjadi Pelindung bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu” [QS. al-Anfal (8): 64]

Faedah di akhirat:

1. Bergabung dengan barisan para nabi.

“Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para Nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang soleh. Mereka itulah sebaik-baik teman“. [QS. an-Nisa' (4): 69]

2. Mendapatkan keluarga yang ikut menapaki jalan ittiba’.

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dahm keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, di surga dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya” [QS. ath-Thur (52): 21]

3. Terhindar dari rasa takut dan sedih.

“Kami berfirman kepada Adam: “Turunlah kamu dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatlran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati” [QS. al-Baqarah (2): 38]

4. Memperoleh pintu taubat dan ampunan.

“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshor, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka” [QS. at-Taubah (9): 117]

 

Sarana Ittiba.

1. Taqwa dan takut kepada Allah swt.

Hal ini dikarenakan orang yang bertaqwa dan takut kepada-Nya, maka ia akan mendapatkan furqon (pembeda), yang akan menuntunnya untuk membedakan yang haq dengan yang bathil.

“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqon…” [Qs. al-Anfal (8): 29]

2. Ikhlas kepada Allah swt dalam mencari kebenaran.

Ibnu Taymiyyah berkata: “Demikian pula halnya orang yang berpaling dari ittiba’ kepada kebenaran karena mengikuti hawa nafsunya, maka hal ini hanya akan mendatangkan kebodohan dan kesesatan hingga mematikan hatinya dari mengetahui kebenaran yang sangat gamblang sekalipun…” (al-Fatawa 10/10)

3. Berserah diri dan tadharru’ (merendahkan diri) kepada Allah serta menampakkan kebutuhan kepada-Nya.

Bahkan hal ini dapat dianggap sebagai salah satu sarana yang paling utama, sebagaimana sikap Rasul

4. Mempelajari hukum-hukum syar’i.

Karena tidak ada sarana untuk mengamalkan hukum-hukum Islam dan ittiba’ kepada Rasulullah kecuali dengan mempelajari ajaran wahyu dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

5. Memahami dan mentadabburi nash-nash yang shahih.

Semoga kita senantiasa mengikuti Rasulullah saw dalam melaksanakan syari’at agama yang sangat kita cintai ini. Amin.

 

Sumber: Buletin Dakwah Hasmi Edisi E.51, 27 Januari 2012 (mimbarjumat.com)