Andaikan kita menyadari dan merenungi betapa nikmat yang Allah SwT telah berikan kepada kita sungguh sangat besar. Dia memberikan anugerah kepada kita, apa saja yang kita perlukan untuk hidup dan beribadah di dunia ini. Dengan demikian, hakekatnya adalah tidak ada alasan apa pun yang membenarkan kepada kita untuk melakukan kemaksiatan di muka bumi ini.
Coba kita renungkan seluruh macam pemberian Allah swT yang melekat dalam tubuh kita saja lebih dahulu, tidak usah terlampau jauh membayangkan kenikmatan yang Allah berikan. Misalnya mata, dengan Allah SwT memberikan sepasang mata kepada kita, kita dapat melihat keindahan dan gemerlapnya dunia ini dengan seisinya. Hidung, dengan hidung yang Allah berikan kita dapat mencium berbagai macam aroma, dan yang paling besar manfaatnya adalah kita dapat bernafas. kedua tangan, kaki dan sebagainya yang memiliki manfaat yang sangat besar dalam berbagai macam aktivitas manusia. Artinya adalah apa yang ada pada diri dan jasad kita mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki adalah pemberian Allah SwT. Apa yang ada di sekeliling kita mulai dari keluarga, kerabat, sanak keluarga hingga harta benda adalah karunia Allah SwT. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, sudah berapa banyak karunia dan anugerah yang Allah SwT berikan. Bahkan tidur sekali pun adalah anugerah dari Allah SwT. Banyak orang yang merasa sakit karena tidak bisa tidur. Allah SwT berfirman: “Dan apa saja nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (An-Nahl [16]: 53)
Hakikat dan anugerah yang Allah SwT berikan ini telah kita pahami bersama, maka apa yang harus kita lakukan sebagai hamba-Nya yang lemah dan tidak berdaya yang segala sesuatunya telah disediakan dan dibantu oleh Allah SwT agar terwujud cita-cita dan pengharapan kita terhadap sesuatu? Tentu jawaban yang paling ideal adalah kita harus berbuat dan melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak Allah SwT. kemudian kita harus mengingat-Nya dan tidak lalai dalam beribadah kepada-Nya. Segala macam perintah-Nya kita kerjakan dan segala macam larangan-Nya kita jauhi. Sesuai dengan firman Allah SwT: “Dan Aku tidak menciptakan Jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51]:
Nah, lantas bagaimana jika kemaksiatan menjadi kebiasaan hidupnya sehari-hari. Aktivitas yang dijalankan tidaklah lengkap jika belum melakukan kemaksiatan. Minum-minuman keras, berjudi, mencuri, membunuh, mendzhalimi orang lain, memberikan suap, korupsi dengan berbagai macam nama dan alasan, berzina, lalai dalam melaksanakan shalat, puasa, enggan untuk mengeluarkan zakat dan lain sebagainya. Jawabnya adalah boleh saja asal mampu memenuhi lima perkara.
Lima perkara yang dimaksud adalah apa yang pernah disampaikan oleh Ibrahim bin Adham, seorang ulama yang masyhur pada masanya. Suatu waktu ada seorang laki-laki datang kepadanya. Orang tersebut mengakui bahwa ia adalah orang yang banyak melakukan perbuatan dosa. Orang tersebut meminta nasehat yang mujarab, nasehat yang tidak membuatnya kembali ke perbuatan dosa yang sering kali ia lakukan.
Ibrahim bin Adham berkata kepada orang tersebut, “Jika kamu menerima lima perkara dariku, dan kamu mampu melaksankannya, maka perbuatan maksiat apa pun tak akan mencelakakan kamu.”
Lantas orang tersebut berkata dengan penuh perhatian, “Apakah itu?”
Ibrahim berkata, “Jika kamu ingin bermaksiat kepada Allah SwT, maka janganlah makan dari rizki-Nya!”
Orang itu menjawab, “Kalau demikian, dari mana aku bisa makan, minum, karena semua yang tersedia di bumi ini adalah pemberian Allah SwT?”
Ibrahim berkata, “Apakah pantas kamu bermaksiat kepada Allah, sedangkan kamu memakan rizki-Nya?”
Orang itu menjawab, “Tidak, tidaklah pantas aku makan dari rizki yang Allah sediakan tetapi aku bermaksiat kepada-Nya. Kemudian apa yang kedua?”
Ibrahim berkata, “Jika kamu ingin bermaksiat kepada Allah Ta’ala, maka janganlah kamu tinggal di bumi-Nya!”
Orang tersebut berkata, “Syarat ini lebih besar dari yang pertama, di mana aku harus tinggal sedangkan seluruh alam raya ini adalah ciptaan Allah SwT?”
Ibrahim berkata, “Apakah pantas kamu bermaksiat kepada Allah sedangkan kamu memakan rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya?”
Orang itu menjawab, “Tidak, kemudian yang ketiga?”
Ibrahim berkata, “Jika kamu ingin bermaksiat kepada Allah Ta’ala, maka carilah tempat di mana Allah tidak melihatmu!”
Orang itu berkata, “Ke mana aku harus pergi, sedangkan Allah mengetahui semua yang terlihat dan semua yang tidak terlihat (tersembunyi)?”
Ibrahim berkata, “Apakah pantas kamu bermaksiat kepada Allah sedangkan kamu memakan rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya serta Dia melihat apa yang kamu lakukan?”
Orang itu menjawab, “Sudah tentu tidak pantas, lantas apa yang keempat?”
Ibrahim berkata, “Jika malaikat maut datang untuk mengambil ruhmu, maka mohonlah kepadanya, ‘Berilah aku waktu agar aku dapat bertaubat dan beramal shalih!”
Orang itu berkata, “Permohonanku tidak akan dikabulkan dan malaikat maut tetap akan menjalankan tugas untuk mencabut nyawaku, karena malaikat maut tidak akan menunda kematianku.”
Ibrahim berkata, “Jika kamu tidak dapat menghindar dari datangnya kematian agar dapat bertaubat dan beramal shalih, maka kenapa kamu bermaksiat kepada-nya?”
Orang itu berkata, “Lalu apa yang kelima?”
Ibrahim berkata, “Jika di hari Kiamat nanti malaikat penjaga neraka datang untuk mengirimmu ke neraka, maka janganlah kamu menurutinya, kamu tolak!”
Orang itu berkata, “Mana mungkin, sudah tentu mereka tidak akan melepaskanku dan tidak akan mengabulkan permohonanku yang demikian.”
Ibrahim berkata, “Jika demikian, bagaimana kamu berharap dapat selamat?”
Orang itu pun berkata, “Cukuplah hal ini bagiku. Sungguh aku memohon ampun kepada Allah Ta’ala, dan bertaubat kepada-Nya.”
Dengan nasehat tersebut, yaitu lima perkara yang disampaikan oleh Ibrahim bin Adham dapat kita pahami bahwa manusia tidak berhak untuk melakukan kemaksiatan di muka bumi ini. Karena segala macam yang ada di dunia ini adalah milik Allah SwT yang diberikan untuk hamba-Nya dengan tujuan mau beribadah dan melaksanakan perintah-Nya dengan sebaik-baiknya, serta mau menjauhi segala macam perbuatan yang telah dilarang-Nya. Jangan coba-coba dekati, apalagi sampai melakukannya.
Sudah menjadi keniscayaan dan kewajiban yang tidak dapat kita tawar, yakni untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SwT kapanpun, dimanapun dan dalam kondisi apapun. Cara bersyukur yang dpat kita lakukan adalah tidak hanya cukup dengan lisan saja, mengucapkan Alhamdulillah saja, tetapi juga hati, lisan dan anggota tubuh. Dengan lisan kita mengakui bahwa apa pun nikmat yang kita peroleh, semata-mata datangnya dari Allah SwT. syukur dengan lisan adalah kita selalu berupaya dan berusaha agar lisan ini basah dengan berdzikir dan ucapan syukur kepada Allah SwT. sedangkan syukur dengan anggota tubuh adalah dengan menggunakan anggota tubuh untuk beribadah kepada Allah SwT, melaksanakan perintah-Nya dan tentunya menjauhi larangan-Nya. Kita pergunakan nikmat apapun dengan anggota tubuh ini untuk merealisasikan tujuan utama kita diciptakan, yakni untuk beribadah kepada Allah SwT.
Marilah kita selalu berupaya untuk terus melakukan perbuatan baik, beribadah kepada Allah SwT dan bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, dan jauhilah perbuatan-perbuatan yang telah dilarang oleh Allah SwT. niscaya kita akan selamat di dunia dan di akhirat. Kareena tidak mungkin kita bermaksiat kepada Allah, tetapi kita masih dan tetap menggunakan fasilitas-fasilitas yang Allah berikan. Kita tidak mampu mencari fasilitas lain.
Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua, agar kita dapat melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Amiiin. Wallaahu a’lam (Zarkasih, www.pkesinteraktif.com)



