Kiat Bisnis
Tips Berasuransi Syariah
Maraknya tumbuhnya perusahaan asuransi syariah memberi banyak pilihan kepada masyarakat di dalam menentukan pilihan asuransi syariah yang terbaik bagi kebutuhannya. Banyak perusahaan asuransi syariah yang menawarkan berbagai macam fitur produk syariah.
Agar kita tidak salah memilih produk asuransi syariah, ada beberapa tips yang perlu kita ketahui
Nikmatnya Kuda Tunggangan Umar
Oleh Muhaimin Iqbal
Ada pelajaran dari Umar bin Khattab yang indah untuk diterapkan dalam mengelola emosi dan cara kita mensikapi segala sesuatu yang kita hadapi. Pelajaran tentang syukur dan syabar ini dituangkan dengan analogi yang mudah sekali dicerna melalui kalimat Umar : “Jika sabar dan syukur itu adalah dua kuda tunggangan, maka aku tidak peduli aku harus mengendarai yang mana”. Sikap yang selalu positif semacam ini-pun amat sangat berguna ketika kita mulai terjun di dunia usaha atau investasi dalam bentuk apapun.
Dalam mengamankan aset kita ke Dinar atau emas misalnya, pasti perasaan kita ikut bergejolak ketika harga emas berayun dari angka tertinggi ke angka terendah dan sebaliknya. Bagi yang orientasinya jangka pendek, bisa kecewa ketika harga turun drastis seperti hari-hari ini.
Namun bagi yang memahami trend jangka panjang, maka bisa jadi harga-harga rendah sekarang menjadi peluang tersendiri untuk lebih banyak mengamankan asetnya ke Dinar atau Emas mumpung daya beli Rupiah dan Dollar lagi perkasa.
Dalam investasi atau usaha sektor riil-pun demikian, tidak selamanya mulus. Guncangan-guncangan akan terjadi terutama justru di awal usaha ketika kita belum terlalu siap, oleh karenanya bagi pemula yang tidak tahan banting mayoritasnya akan berakhir di death valley.
Tetapi bagi para calon pengusaha sejati, justru death valley inilah kawah condro dimuko-nya. Bila dia berhasil melalui-nya sementara mayoritas orang tidak sabar untuk menempuhnya, maka hanya akan menyisakan sedikit saja pemain yang sungguh-sungguh mumpuni dibidang yang dipilihnya.
Saya ambil contoh nyata usaha sektor riil saya yang paling dalam dan lama death valley-nya yaitu peternakan kambing. Nampaknya sederhana hanya beternak kambing, orang-orang desapun mampu melakukannya dengan baik. Di atas kertas hitungannya juga begitu menarik, lantas apa masalahnya ?.
Ternyata ketika usaha peternakan kambing ini mau kita tingkatkan menjadi skala industry, segudang masalah itu datang silih berganti. Mulai dari masalah tenaga kerja yang kurang terampil, masalah kandang yang tidak ekonomis dan tidak tahan lama, masalah produksi susu yang tidak sesuai harapan, tingkat kematian yang tinggi, supply pakan yang tidak mencukupi dlsb-dlsb.
Mungkin karena segudang masalah ini pula sehingga industry perkambingan belum berkembang di negeri ini. Peternak yang pandai lumayan banyak, demikian pula para blantik di pasar kambing juga jago-jago, tetapi secara keseluruhan industri kambing dan produk-produk turunannya nyaris belum muncul secara berarti di negeri ini.
Disinilah kuda Umar tersebut diatas menjadi begitu penting, dalam hal beternak kambing saya lagi menunggangi kuda sabar saat ini. Ternyata tidak kalah indahnya dengan kuda syukur yang pernah saya tunggangi di sektor-sektor bisnis yang lain.
Saya bayangkan saat ini saya sedang berada di punggung kuda sabar menelusuri lembah yang namanya death valley peternakan kambing, indahnya adalah karena lagi berada di lembah kini saya melihat hanya ada satu jalan, yaitu naik !. Satu demi satu masalah kita atasi, masalah tenaga kerja solved, masalah kandang solved secara par excellence, masalah kesehatan solved, masalah pakan belum solved namun malah berpeluang untuk menjadi industry tersendiri dengan lahirnya solusi alfalfa.
Dan justru dari berbagai kesulitan dan masalah tersebut diatas kini kami bisa memformulasikan visi usaha sektor riil yang kami tuangkan dalam kalimat singkat “From Seed To Plate...”. Mulai dari biji-biji yang kita tanam untuk menumbuhkan alfalfa, setelah tumbuh untuk memberi makanan bergizi bagi kambing-kambing kami, sebagian diambil susunya untuk produk-produk berbasis susu, sebagian anak-anak yang jantan dan betina yang apkir untuk menu kuliner berbasis kambing, dst.
Saya hanya berharap kuda sabar yang kini sedang saya tunggangi ini cukup kuat untuk mengantarkan saya naik ke bukit, dimana dia boleh istrirahat dan saya melanjutkan perjalanan dengan kuda yang lain, yaitu kuda syukur. Alhamdulillah keduanya nikmat untuk ditunggangi sebagaimana diungkapkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam nan indah “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusan baik baginya dan kebaikan ini tidak dimiliki oleh selain seorang mukmin. Apabila mendapat kesenangan ia bersyukur dan itulah yang terbaik untuknya. Dan apabila mendapat musibah ia bersabar dan itulah yang terbaik untuknya.” HR. Imam Muslim. Alhamdulillah…
Social Entrepreneurship : Sekolah Baru Di Era Wiki
Oleh Muhaimin Iqbal
Kemarin (04/01/12) saya ikut memberi sambutan pada sebuah workshop yang luar biasa, workshop selama dua hari tersebut diberi nama Pesantren Guru – diikuti oleh lebih dari 100 orang guru-guru sekolah Islam utamanya dari wilayah Jabodetabek, tetapi ada juga yang dari luar negeri. Penyelenggaranya adalah Yayasan Al-Fatih Pilar Peradaban, dengan dukungan beberapa institusi dan BUMN. Dari diskusi saya dengan penyelenggara dan juga pembicara lain, saya dapat melihat akan segera lahirnya peluang baru di bidang pendidikan ini.
Peluang ini bukan untuk mencari keuntungan seperti sekolah-sekolah yang dikelola layaknya bisnis, bukan pula seperti sekolah-sekolah yang mengandalkan operasionalnya dari dana pemerintah atau bantuan institusi-institusi – tetapi sekolah yang sustainable – yang mampu secara berkelanjutan menopang kebutuhan dananya sendiri. Tidak memberatkan siswa untuk mencari untung, tetapi juga tidak mengandalkan bantuan dari luar.
Bagaimana sustainability ini akan dicapai ?, sekolah dikembalikan ke fungsi esensiil-nya yaitu tempat para murid belajar dari para guru. Jadi utamanya ada murid yang perlu belajar, dan ada team guru yang kompeten untuk mengajar. Sekolah-sekolah unggulan sekarang menjadi mahal karena mengutamakan gedung-gedung yang megah yang sebenarnya tidak terkait langsung dengan kwalitas pendidikan.
Bahkan saat ini tidak sedikit sekolah-sekolah Islam yang dipandang sebagai unggulan - yang menjadi sangat mahal karena pihak pengelola membebankan biaya gedung pada siswa-siswanya.
Terkait dengan pendekatan ini, tamu asal Palestina yang ikut memberi sambutan bareng saya pada Pesantren Guru tersebut diatas bercerita bahwa meskipun Palestina di boikot, di dzolimi dlsb. Palestina memiliki jumlah ilmuwan yang lebih banyak dari negeri tetangganya Mesir, padahal penduduk Palestina hanya 11-an juta – itupun menyebar di berbagai negara, penduduk Palestina hanya sekitar 1/7 dari penduduk mesir yang mencapai 81-an juta orang.
Kok bisa demikian ?, bagaimana caranya ?, Orang-orang Palestina memiliki metoda pendidikan sendiri. Di rumahnya rata-rata orang tua Palestina – terutama ibunya, mampu memberikan pendidikan yang sangat baik bagi anak-anaknya dengan metode bercerita. Di luar rumah anak-anak dan generasi muda Palestina belajar dari para guru di tenda-tenda, dengan peralatan yang seadanya. Mengutamakan peran guru dan orang tua inilah yang mengunggulkan bangsa Palestina, yang hingga kini tidak bisa dikalahkan oleh berbagai kekuatan dunia yang berusaha ‘memenjarakan’-nya.
Dengan pengetahuannya tentang kondisi muslim Indonesia, lantas tamu dari Palestina ini melontarkan pertanyaan yang patut kita renungkan. Pertanyaan tersebut adalah : “ Mengapa muslim Indonesia yang mencapai mayoritas - lebih dari 80 % penduduk, justru terjajah oleh minoritas – setidaknya tercermin dari penguasaan ekonominya ?”.
Kemungkinan besarnya adalah karena system pendidikannya yang keliru, pendidikan yang disetir oleh para ‘pemodal’ yang rata-rata bukan pendidik, atau para pemberi dana yang mengarahkan pendidikan sesuai visi pemberi dana tersebut – dan bukan visi untuk menghasilkan generasi Islam unggulan.
Lantas bagaimana sekolah baru yang akan lahir antara lain dari Pesantren Guru tersebut ?. Agar tidak terkendala modal yang akhirnya bisa mempengaruhi visi pendidikan, sekolah-sekolah ini akan dilahirkan di rumah-rumah yang kita sebut rumah belajar. Didalamnya ada team guru yang berkompeten di bidangnya, merekalah yang utama dalam pendidikan – bukan modal dana atau bangunan fisiknya.
Karena tidak harus membangun gedung dlsb, maka biaya sekolah akan menjadi murah. Karena rumah belajar-rumah belajar ini bisa menyebar di mana saja, cukup di mana ada guru yang kompeten dan ada murid yang mau belajar, maka seorang murid bisa belajar di tempat yang paling dekat di lingkungannya.
Selain sisi biaya akan rendah, ada efek lain yang luar biasa – yaitu antara lain waktu anak menjadi efektif untuk belajar, tidak harus menempuh perjalanan jauh dlsb – tidak seperti yang sekarang di mana lokasi sekolah-sekolah menjadi pusat-pusat kemacetan di Jabodetabek.
Dengan biaya rendah dan terbebas dari ketergantungan pada modal pula, ide-ide pendidikan yang kreatif bisa secara leluasa dimunculkan. Salah satunya ya yang digagas oleh penyelenggara seminar tersebut – Yayasan Al-Fatih Pilar Peradaban. Yang akan segera dibuat oleh Al-Fatih dalam satu dua bulan kedepan adalah sekolah model, yang mengikuti bagaimana generasi unggulan umat ini dahulu dididik.
Model sekolah-sekolah yang ada sekarang mulai dari kelompok bermain, TK sampai SD adalah mengikuti pola-pola pendidikan yang lahir antara tahun 1,600-an sampai 1,800-an Masehi. Siapa yang melahirkan ?, di era tersebut sudah berlalu era kejayaan pendidikan Islam Andalusia (1492), maka yang melahirkan berbagai model pendidikan yang menjadi rujukan hingga kini adalah model yang dikembangkan para pastur dan orang-orang yang tidak jelas asal usulnya.
Untuk ini team kerja Al-Fatih sudah berhasil melacak dengan sangat rinci bagaimana pendidikan dilakukan di masa-masa kejayaan Islam dahulu, mulai dari generasi para sahabat sampai sekitar delapan abad sesudahnya. Begitu rincinya metode pendidikan ini sampai-sampai dimana seorang guru harus duduk, bagaimana dia bicara dan berpakaian , ilmu apa yang diajarkan dlsb. semuanya terdokumentasikan.
Maka inilah jalan itu, untuk menembalikan generasi Islam yang unggul di masa ini dan masa yang akan datang, tidak ada cara lain kecuali mendidik mereka sebagaimana generasi unggulan umat ini dahulu dididik. Mereka akan dididik di rumah-rumah belajar yang selanjutnya kita sebut Kuttab – ini adalah program pendidikan dari usia 5-12 tahun yang dahulu digunakan di masa generasi unggulan Islam.
Pertanyaan yang sangat umum dari peserta Pesantren Guru maupun dari masyarakat yang ikut antusias menyambut program ini adalah, “lantas bagaimana anak-anak ini nanti disiapkan untuk ikut pendidikan lanjutan , perguruan tinggi dlsb. ?”
Insyaallah tidak ada masalah, saat ini saja saya mengenal setidaknya lima sekolah yang sudah berjalan mirip dengan konsep ini. Masing-masing satu di Medan, Semarang, Jakarta, Depok dan Bogor. Karena sekolah ini (awalnya) dari rumah ke rumah, mereka tidak terkenal sebagaiman sekolah unggulan lainnya. Tetapi prestasi siswanya ataupun lulusan-lulusannya tidak kalah dengan sekolah-sekolah besar, bahkan perguruan tinggi di tanah air.
Bahkan saya juga mendengar penuturan dari pengelola sekolah ‘rumahan’ semacam ini di Semarang tentang lulusannya. Suatu saat ada lulusannya yang ingin menguasai teknologi tinggi dengan mendaftar ke perguruan tinggi ternama di Jerman. Ketika calon mahasiswa ini diundang untuk tes, dia berangkat tanpa pembekalan khusus dari guru-guru-nya karena memang tidak tahu materi apa yang akan dites-kan di sana.
Ternyata di sana tesnya hanya melalui wawancara oleh salah seorang professor, dia ditanya begini kurang lebih : “negerimu banyak memiliki hutan, lantas apa yang kamu pikirkan dengan hutanmu itu dan apa yang akan kamu lakukan ?”.
Karena di sekolah yang ‘tidak biasa’ di Semarang tersebut anak dididik untuk berfikir secara terbuka, menghargai dan melestarikan alam dlsb. dengan fasih anak yang masih belia ini bercerita tentang hutan-hutan kita, apa yang terjadi sekarang, apa yang seharusnya dilakukan dlsb. hanya melalui bercerita ini sang professor menjadi tahu kwalitas calon anak didiknya ini dan dia diterima langsung.
Jaman ini adalah jaman teknologi, Wikipedia saja bisa mengumpulkan jutaan ahli dari berbagai bidang untuk share ilmunya secara gratis; mengapa tidak kita padukan seluruh ilmu pengetahuan yang dimiliki umat ini untuk kembali melahirkan generasi umat unggulan untuk masa depan Islam ?. Tidak perlu menunggu kita punya gedung sekolah yang megah, laboratorium yang komplit dlsb., mulai dari rumah-rumah tempat berkumpulnya para guru yang kompeten – cukuplah untuk melahirkannya Kuttab-kuttab baru di lingkungan kita semua. Cukuplah alam dan lingkungan sekitar kita menjadi laboratorium hidup untuk para calon pelaku peradaban masa depan ini.
Setelah dalam satu dua bulan kedepan model yang kita siapkan beroperasi, Anda dapat belajar dan kemudian mencontohnya untuk lingkungan Anda. Bukan hanya sekedar mencontoh standar kurikulum, kompetensi guru dan sejenisnya, Yayasan Al-Fatih Pilar Peradaban insyaAllah juga akan memfasilitasi link and match-nya dengan institusi-institusi pendidikan yang sudah ada. Misalnya untuk mendapatkan ujian nasional yang setara, hubungan dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi di dalam dan luar negeri untuk pendidikan lanjutan para murid dlsb.
Untuk Anda para guru, dengan pendekatan ini insyallah Anda akan kembali menjadi pelaku utama dalam pendidikan ini – bukan lagi para pemodal atau donator Anda, bukan pula yayasan tempat Anda bernaung. Bahkan kami juga akan fasilitasi pendidikan social entrepreneurship untuk Anda para guru, sehingga Anda bisa menjalankan proses pendidikan yang sustainable (berkelanjutan) – tanpa mengandalkan donatur atau pemodal dan tidak pula memberatkan para muridnya. Insyaallah.
Things To Do Sebelum Dan Semasa Pensiun (2) : Menghafal Al-Qur’an…!
Oleh Muhaimin Iqbal
Ada kritik dari temen saya yang shaleh tentang tulisan saya yang berjudul Things To Do Sebelum Dan Semasa Pensiun dua hari lalu, yang katanya terlalu condong pada duniawi – padahal ketika pensiun kita semakin dekat dengan akhir hayat kita mestinya semakin condong mengumpulkan bekal untuk hidup kita berikutnya yang abadi. Saya sependapat dengan dia, namun bekerja untuk mencukupi diri sendiri dan anak istri agar tidak tergantung orang lain, syukur-syukur bisa membantu orang lain untuk juga mencukupi diri dan keluarganya melalui penciptaan lapangan kerja – insyaAllah juga merupakan bagian dari persiapan untuk kehidupan berikutnya – bila diniati untuk mencari keridlaanNya.
10 Investasi Pilihan Bagi Orang-Orang Yang ‘Takut’
Oleh: Muhaimin Iqbal
Bagi kita yang saat ini berada di usia 40-an , 40 tahun lagi atau sekitar tahun 2050 kemungkinan terbesarnya kita sudah tidak ada di dunia ini. Tetapi penduduk bumi saat itu diperkirakan mencapai 9 milyar jiwa dan sebagiannya adalah anak cucu kita. Di antara sekian banyak problem yang mungkin dihadapi oleh mereka saat itu, problem terbesar yang sudah bisa diprediksi dari sekarang adalah kecukupan pangan untuk mereka. Tidak-kah kita terpikir untuk mulai berbuat saat ini untuk meringankan beban anak cucu kita nantinya ?
Badan pangan dunia Food and Agricultural Organization – FAO telah memprediksi bahwa produksi pangan dunia harus meningkat 70% dari sekarang bila ingin penduduk bumi saat itu memperoleh pangannya secara cukup. Padahal lahan pertanian maksimalnya hanya bisa bertambah 10 % dari yang sekarang ada di seluruh dunia dan di sebagian negara malah menyusut bukannya bertambah, maka solusinya haruslah peningkatan produktifitas hasil dari setiap jengkal tanah pertanian yang ada.
Bila Anda termasuk yang terketuk untuk ikut menyelamatkan generasi yang akan datang ini, berikut antara lain 10 jenis investasi yang bisa Anda lakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap anak cucu kita semua – pilihan lainnya tentu juga banyak.
- Investasi di tanah-tanah pertanian (membeli) dan mengamankannya untuk tetap menjadi tanah pertanian. Sudah terlalu banyak lahan-lahan pertanian yang berubah fungsi menjadi perumahan, lapangan golf, jalan raya dlsb. waktunya menghentikan semua ini dan setidaknya mempertahankan lahan yang tersisa untuk pertanian.
- Investasi pada pengetahuan pertanian dan sarana penunjang, dengan mempelajari seluk beluk ilmu pertanian umumnya dan sarana penunjangnya untuk kemudian mulai berbuat untuk mengamalkan ilmu pengetahuan ini.
- Investasi pada upaya untuk menghasilkan tanaman-tanaman organic lengkap dengan pupuk-pupuknya, pestitisadanya dlsb, dunia akan sangat membutuhkan healthy product yang semakin langka kedepan.
- Investasi untuk penanganan pasca panen segala bentuk hasil pertanian, karena apapun produk pertanian saat itu harus bisa dihemat dan didistribusikan ke berbagai belahan dunia yang paling membutuhkannya.
- Investasi pada sumber-sumber pangan yang bisa ditanam di tanah yang terbatas atau bahkan tanpa tanah, seperti tanaman vertical, hydroponic/areophonic, jamur dlsb.
- Investasi pada manajemen atau pengelolaan air hujan karena inilah sumber utama kehidupan saat itu ketika air tanah sudah nyaris habis disedot atau tercemar.
- Investasi untuk menghasilkan benih-benih unggul dan fertile sehingga bisa mengembalikan siklus pertanian yang sudah berlangsung ribuan tahun yang kini di sabot oleh para konglomerat benih. Harus dikembalikan agar setiap hasil panen selain hasil terbesarnya dikonsumsi – sebagiannya harus bisa menghasilkan benih untuk tanaman berikutnya.
- Investasi untuk pertanian tanaman-tanaman bergizi tinggi, karena ketika kwantitas menjadi kendala maka kwalitas akan sangat dibutuhkan.
- Investasi untuk produksi pangan hewani yang efektif baik dari jenis daging, ikan, susu, telur dlsb.
- Investasi pada usaha pertanian berpresisi tinggi, yaitu pertanian yang ditunjang oleh hasil riset yang intensif, laboratorium analisa kecocokan tanah yang akurat, resep pemupukan yang efektif dlsb.
Tidak ada yang mudah di antara 10 investasi tersebut diatas, dan hasilnya-pun belum tentu bisa kita nikmati di usia kita sekarang – oleh karenanya amat sangat sedikit dari para pemilik dana saat ini yang mau menerjuni salah satunya. Tetapi bayangkan apa yang akan dialami oleh generasi anak kita yang masih balita saat ini, tidakkah kita ingin berkontribusi untuk mengamankan masa depan mereka ?
Selain untuk anak cucu kita sendiri, investasi semacam ini juga dapat menjadi bentuk respon langsung kita atas peringatan Allah : “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya…” (QS 4:9).
More Articles...
Page 1 of 7
Kiat Bisnis


