Sunday, Feb 05th

Last update:07:39:53 PM GMT

RSS
You are here: Edukasi Opini

Opini

Teguran Kyai Berjiwa Entrepreneur Terkait Beasiswa

E-mail Print PDF

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Selama ini kyai dikenal sebagai pengasuh pondok pesantren dan sehari-hari mengajarkan kitab kuning kepada para santrinya. Mereka itu seringkali dianggap hanya memikirkan kehidupan akherat dan tidak peduli pada kehidupan dunia. Memang ada sementara kyai yang demikian. Tetapi ada pula kyai yang berjiwa entrepeneurship dan bahkan langkah-langkahnya tidak kalah dibanding sarjana ekonomi sekalipun.

Saya mengenal beberapa kyai yang memiliki jiwa entrepreneur seperti itu. Selain mengasuh pesantren, mereka juga mengembangkan usaha-usaha di bidang ekonomi. Ada salah seorang kyai yang saya kenal, selama ini telah berhasil mengembangkan usaha perkebunan sawit hingga puluhan ribu hektar. Selain itu, ia juga memiliki usaha-usaha lainnya seperti proyek pembangunan perumahan, pertokoan dan lain-lain.

Read more...

Mewujudkan Kemandirian ekonomi Umat

E-mail Print PDF

Oleh : Agustianto (Ketua  I DPP  IAEI dan Dosen Pascasarjana Ekonomi Syariah Universitas Indonesia)

Kondisi ekonomi umat di Indonesia, secara umum, masih belum mandiri, bahkan masih jauh dari kemandirian. Parameter ketidak mandirian ekonomi umat itu terlihat pada banyak fakta dan kondisi objektif perekonomian umat, yaitu :.

Pertama, angka kemiskinan masih menggurita di Indonesia. Kalau digunakan indicator kemiskian menurut ILO dimana perkapita di bawah 2 dolar sehari, maka angka kemiskinan di Indonesia mencapai 100 juta jiwa lebih.   Bagaimana bisa dikatakan mandiri, kalau kemiskinan masih menggeluti umat. Kedua,   sumber daya alam Indoensia yang strategis umumnya dikuasai oleh asing. Minyak Bumi dikuasai oleh asing sebesar 87 persen, Dengan demikian Indoenesia hanya menguasai 13 persen SDA minyak bumi, Fakta ini membuat bangsa kita (yang sebagian besar umat), tergantung kepada asing. Demikian pula hasil SDA lainnya, seperti emas dan gas.  Ketiga, kebutuhan pangan bagi rakyat yang semakin tergantung dari import dengan tingkat ketergantungan yang semakin tinggi. Fakta ini jelas menunjukkan ketidakmandirian pangan umat.

Read more...

OUTLOOK PERBANKAN SYARIAH 2012

E-mail Print PDF

Rifki Ismal, Ascarya dan Ali Sakti

Perkembangan Terkini

Setelah mengalami perlambatan pertumbuhan akibat terimbas krisis Amerika Serikat tahun 2008/2009, pertumbuhan industri perbankan Syariah di Indonesia menunjukkan trend yang terus meningkat semakin pesat, dan pada akhir September 2011 pertumbuhan aset mencapai 47.8% (yoy) atau Rp123.4 trilliun, tertinggi sejak tahun 2005. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) dan pembiayaan yang diberikan (PYD) pada waktu yang sama bahkan lebih pesat lagi, masing-masing mencapai 53.0% (yoy) atau Rp97.8 trilliun dan 52.3% (yoy) atau Rp92.8 trilliun, dengan FDR (financing to deposits ratio) 95.7%. Sebagai perbandingan, pertumbuhan aset perbankan konvensional pada waktu yang sama mencapai 22.2% (yoy), atau Rp3371.5 trilliun, dengan LDR (loan to deposits ratio) 81.4%.

Read more...

Kekerasan, Korupsi, dan Pendidikan

E-mail Print PDF

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Dua hal yang disorot secara tajam oleh media massa hingga di ujung akhir tahun 2011, yaitu tentang kekerasan dan korupsi. Jika direnungkan secara mendalam, dua hal tersebut sebenarnya tidak lepas dari pendidikan. Banyak orang sudah sangat paham bahwa tugas penting pendidikan di antaranya adalah untuk membangun watak atau karakter manusia. Orang-orang yang berpendidikan diharapkan berperilaku santun, saling kasih mengasihi, jujur, menghormati orang lain, sehingga tidak akan berperilaku sembarangan semisal korupsi dan melakukan kekerasan yang membahayakan dirinya sendiri dan keselamatan orang lain.

Read more...

Logika Dunia

E-mail Print PDF

Ali Sakti

Satu ketika saya pernah memiliki kesimpulan penting tentang hidup saya, bahwa saya sudah mampu memahami rahasia dunia, saya mengetahui logika-logika dunia, sehingga saya mampu membaca hikmah-hikmah dari peristiwa-peristiwa didalamnya, sehingga mampu mengetahui respon apa yang sepatutnya dilakukan. Tetapi kini pemahaman saya semakin dalam, karena meski saya mampu memahami logika dunia tetapi seringkali saya belum mampu menyikapinya dengan tepat. Saya masih belum bisa merubah pemahaman itu menjadi kekuatan ikhlas untuk menyikapi peristiwa-peristiwa dunia, khususnya yang berkaitan dengan diri dan harapan saya. Singkatnya, saya tahu sikap apa yang harus diambil, tetapi tidak mampu melakukannya.

Read more...

Page 1 of 112

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »