Thursday, Feb 23rd

Last update:01:02:03 AM GMT

You are here: Edukasi Opini Teguran Kyai Berjiwa Entrepreneur Terkait Beasiswa

Teguran Kyai Berjiwa Entrepreneur Terkait Beasiswa

E-mail Print PDF

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Selama ini kyai dikenal sebagai pengasuh pondok pesantren dan sehari-hari mengajarkan kitab kuning kepada para santrinya. Mereka itu seringkali dianggap hanya memikirkan kehidupan akherat dan tidak peduli pada kehidupan dunia. Memang ada sementara kyai yang demikian. Tetapi ada pula kyai yang berjiwa entrepeneurship dan bahkan langkah-langkahnya tidak kalah dibanding sarjana ekonomi sekalipun.

Saya mengenal beberapa kyai yang memiliki jiwa entrepreneur seperti itu. Selain mengasuh pesantren, mereka juga mengembangkan usaha-usaha di bidang ekonomi. Ada salah seorang kyai yang saya kenal, selama ini telah berhasil mengembangkan usaha perkebunan sawit hingga puluhan ribu hektar. Selain itu, ia juga memiliki usaha-usaha lainnya seperti proyek pembangunan perumahan, pertokoan dan lain-lain.

Melihat kehidupan para kyai tersebut, menjadi tampak bahwa menjalani kehidupan akan bahkan menyelesaikan problem-problem kehidupan ini terlihat dirasakan ringan. Selain menjadi tempat belajar dan bertanya tentang keagamaan, kyai juga bisa menjelaskan tentang berbagai alternatif jenis usaha yang bisa dipilih untuk mengatasi keterbatasan lapangan pekerjaan. Sekalipun tidak mendapatkan bantuan anggaran dari pemerintah, tidak sedikit kyai yang saya kenal membebaskan biaya hidup para santri yang belajar di pesantrennya, khususnya mereka yang berasal dari keluarga miskin dan yatim.

Suatu ketika di kampus, saya kedatangan seorang kyai yang memiliki jiwa entrepereneurship dimaksud. Dalam perbincangan itu, kyai menanyakan tentang pemberian beasiswa kepada para mahasiswa. Saya memberikan penjelasan, bahwa ada di antara mereka yang mendapatkan beasiswa, sekalipun tidak terlalu besar, hingga cukup untuk biaya hidup setiap bulannya. Atas jawaban saya itu, kyai menyambung pertanyaannya, apakah uang yang diberikan sebagai biaya hidup itu diserahkan langsung kepada yang bersangkutan. Saya jawab, ya dan tidak dipotong sedikitpun.

Mendengar jawaban saya itu, kyai mulai menyalahkan saya. Kyai menegur saya, bahwa kebijakan itu adalah salah, atau setidaknya kurang tepat. Para mahasiswa mestinya tidak boleh menerima sesuatu tanpa prestasi kerja, atau mengeluarkan keringat. Dengan cara itu, kata kyai, akan mengajari mahasiswa dimaksud bermalas-malas. Mereka tidak perlu bekerja tetapi mendapatkan uang. Mahasiswa kata kyai, tidak boleh diajari mendapatkan tanpa sesuatu prestasi kerja. Kebijakan seperti itu, menurut kyai dimaksud, akan membunuh bibit-bibit jiwa entrepreneurship yang seharusnya justru ditumbuh-kembangkan.

Kyai kemudian menyampaikan ide cerdasnya. Mestinya, kata kyai, pihak kampus membimbing agar uang beasiswa yang diterima oleh para mahasiswa tersebut dikumpulkan kembali untuk selanjutnya dijadikan modal usaha. Di kota, kata kyai, banyak sekali peluang usaha dengan modal terbatas. Umpama saja uang beasiswa itu dikumpulkan di antara beberapa mahasiswa, kelompok demi kelompok, yang selanjutnya digunakan untuk membuka usaha, maka mahasiswa akan berlatih berwirausaha. Awalnya usaha itu berskala kecil tetapi lama kelamaan akan menjadi besar. Menurut pendapat kyai, bahwa yang terpenting dengan cara itu agar mahasiswa memiliki jiwa dan pengalaman berwirausaha.

Kyai dimaksud juga menjelaskan bahwa, sekalipun santri di pesantrennya ratusan jumlahnya, tetapi tidak ada yang dipungut biaya. Mereka dipekerjakan di berbagai usaha yang dimilikinya. Waktu bekerja juga tidak perlu lama, misalnya selesai shalat subuh hingga jam tujuh pagi. Setelah itu, para santri dipersilahkan untuk belajar sebagaimana santri pada umumnya. Jam kerja lainnya bagi santri, pada sore hari tatkala mereka tidak mendapatkan pelajaran. Pesantren seperti ini, kata kyai, benar-benar mengajari hidup. Di pesantren, mereka mendapatkan ilmu sekaligus ketrampilan hidup. Keluar dari pesantren, mereka tidak akan mengalami kesulitan mencari kerja, karena memang, sehari-hari sudah terbiasa bekerja.

Dari cerita pendek ini, saya ingin menunjukkan bahwa, ternyata pengasuh pesantren telah memiliki wawasan pendidikan yang sedemikian tepat untuk menjawab persoalan kehidupan selama ini. Selain itu juga ingin menunjukkan bahwa, banyak kyai yang memiliki pengetahuan dan pengalaman entrepreneur yang handal. Mereka memiliki usaha-usaha ekonomi yang tidak kalah dari para dosen di perguruan tinggi. Kalau selama ini, ada sementara orang kampus yang ingin memberdayakan pesantren, tetapi juga sebaliknya, ada kyai yang berkeinginan memberdayakan perguruan tinggi. Keadaan itu terasa terbalik, tetapi itu nyata. Wallahu a'lam.

Penulis adalah Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang