“Irsyadul Anam”, “Sifat duapuluh” dan “Adabul Insan” kitab yang ditulis dalam bentuk hurupf Pego ( tulisan arab yang berbahasa indonesia melayu) adalah merupakan buah karya ulama besar yang menjabat sebagai Mufti betawi yaitu Habib Usman bin Yahya. Karya-karya beliau begitu banyak dan masih tetap dijadikan rujukan oleh para ulama diantaranya adalah:
Taudhih Al-Adillati ‘ala Syuruthi Al-Abillah, Al-Qawanin Asy-Syar’iyah li Ahl Al-Majalisi Al-Hukmiyah wal Iftaiyah , Ta’bir Aqwa ‘adillah, Jam Al-Fawaid, Sifat Dua Puluh, Irsyad Al-Anam, Zahr Al-Basyim, Ishlah Al-Hal, Al-Tuhfat Al-Wardiah, Silsilah Alawiyah, Al-Thariq Al-Shahihah, Taudhih Al-Adillah, Masalik Al-Akhyar, Sa’adat Al-Anam, Nafais Al-Ihlah, Kitab Al-Faraid, Saguna Sakaya, Muthala’ah, Soal Jawab Agama, Tujuh Faedah, Al-Nashidat Al-Aniqah, Khutbah Nikah, Ringkasan Ilmu Adat Istiadat, Ringkasan seni membaca Al-Qur’an, Membahas Al-Qur’an dan Kesalahan Dalam Berdo’a, Perhiasan, Ringkasan Unsur-unsur Do’a, Ringkasan Tata Bahasa Arab, Al-Silisilah Al-Nabawiyah, Atlas Arabi, Gambar Mekah dan Madinah, Ringkasan Seni Menentukan Waktu Sah Untuk Shalat, Ilmu Kalam, Hukum Perkawinan, Ringkasan Hukum Pengunduran Diri Istri Secara Sah, Ringkasan Undang-Undang Saudara Susu, Buku Pelajaran Bahasa dan Ukuran Buku, Adab Al-Insan, Kamus Arab Melayu, Cempaka Mulia, Risalah Dua Ilmu, Bab Al-Minan, Hadits Keluarga, Khawariq Al-Adat, Kitab Al-Manasik dan Ilmu Falak.Ulama kelahiran Pekojan ini keturunan dari Ulama Hadromaut bernama Abdullah bin Aqil bin Umar bin Aqil bin Syech bin Abdulrahman bin Aqil bin Ahmad bin Yahya. Lahir hari Minggu tanggal 1 Desember 1882 M bertepatan dengan 17 Rabiul awal 1238 H. Sejak kecil beliau sudah diajarkan ilmu keagamaan oleh ayahnya, menjelang usia 18 tahun Habib Usman menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu ilmu agama selama hampir 7 tahun menetap di Mekkah dan berguru kepada salah seorang ulama besar di Mekkah bernama Syech Ahmad Zaini dahlan yang bergelar “Bahrul Akmal” ( lautan kesempuranaan) karena keluasan ilmu yang dimilikinya dan Pembela paham Ahlus Sunnah wal jama’ah dari serangan Paham Wahabi. Setelah belajar di Mekkah Habib Usman bin Yahya belajar di tanah leluhurnya di Hadro maut, negrinya para ulama dan auliya. Di sana Beliau memperdalam ilmu Tasawuf dan berkunjung ke beberapa maqom auliya untuk mengambil tabaruk, dari Hadromaut Habib usman melakukan pengembaraan ke beberapa negara di timur tengah seperti Mesir , Tunisia , Turki , Iran dan Syiriah.
Tahun 1826 Habib Usman kembali ke Jakarta untuk berdakwah. Beliau aktif mengajar di beberapa Majlis ta’lim di Betawi. Keluasan ilmu yang dimiliki menjadikan beliau ulama yang termasyhur di Betawi. Yang membuatnya beda dengan ulama-ulama lainnya adalah penampilan beliau yang cenderung berpakaian ala Belanda dan tak sedikit dari beberapa ulama yang menuduh beliau sebagai antek Belanda dan anti tasawuf serta tarikat. Dan hal tersebut dibantah oleh beberapa muridnya seperti Habib Ali Al-Habsyi ( Kwitang ) bahwa beliau bukan anti tarekat dan tasawuf beliau sendiri belajar tasawuf dari beberapa guru-guru beliau di Hadromaut seperti Syekh Abdullah bin Husein bin Thahir, Habib Abdullah bin Umar bin Yahya, Habib Alwi bin Saggaf Al-Jufri, dan Habib Hasan bin Shaleh Al-Bahar. Yang kesemuanya adalah ahli tasawuf dan tarekat. Jadi anggapan bahwa Habib Usman bin yahya adalah anti tarekat dan tasawuf adalah tidak benar. Penampilan Habin Usman yang perlente karena keluasan ilmu dan pergaulan yang sangat luas baik terhadap pribumi maupun terhadap musuh Belanda.
Beliau diangkat sebagai Mufti Betawi menggantikan Syech Abdu ghani yang telah wafat. Beliau sangat di segani oleh ulama-ulama di Betawi karena keluasan ilmu yang dimiliki setiap menjelang bulan Ramadhon beliau mengumpulkan para ulama-ulama baik ulama-ulama Betawi maupun diluar Betawi. Bertempat di Masjid keramat Luar batang di makom Waliyulloh Habib Husein bin Abu Bakar Al-Idrus. Forum silahturahim para ulama yang di gagas oleh Habib Usman bin Yahya tersebut hingga saat ini masih tetap di lestarikan maka setiap akhir kamis di bulan Syaban ramai-ramai baik para ulama dan masyarakat dari berbagai daerah datang berkunjung keluar batang untuk bersilahturahim menyambut bulan Ramadhon dan mengambil tabaruk dari Shohibul makom dengan suguhan hidangan khas Nasi kebulinya. Karena biasanya para ulama-ulama selama bulan Romadhon jarang keluar rumah mereka khusu’ beribadah di rumah selama bulan Romadhon.
Tahun 1913 Habib usman bin yahya wafat dengan meninggalkan buah karya kitab yang sampai saat ini masih di baca dan menjadi rujukan para ulama.
Sumber: sachrony.wordpress.com





